Showing posts with label 15sebuah puisi. Show all posts
Showing posts with label 15sebuah puisi. Show all posts

Saturday, September 22, 2012

#15 Ibu

Ibu
cintamu seluas rahim
berkabut, terlilit talipusar

#14 Rindu

: mengenang Munir.

ketika hujan tua
sajaksajak tumpah
mari minum kata

malaikat bercinta
tuhan tuhan mabuk
meminum kematian

rindu ini pulang
kepada rumah pahlawan
: batu nisan

#13 Pojok Pulang

1

bertemu ilalang
di pojok pulang
merayap di kepala
tumbuh liar di ruasruas hati
menyala pada Desember
seperti pohon terang
ilalang, tenanglah.
menguninglah.
pelan pelan.

2

lalu, aku ini capung
meloncat kegirangan
pada lorong lorong tanah
ketika hujan reda
kalender rontok
hendak layu
sekian hari menunggu.

3

hujanku reda
ilalang, tenanglah
terbanglah.
menguninglah.

#12 00:48

track ke-tiga
tanggal tiga belas
tape menyala
senyumsenyum
kecil, lampulampu
malam mengerjap
di kejauhan mata
ini terjaga. hei!
selamat pagi,
ilalang
bawa, ku terbang.
lalu bersama liarmu
rindukan aku.

#11 Sepanjang Jalan

kicauan di atas
langit kedinginan, daundaun
bergerak menggantung sepi,
ilalang sedang apa?
aku bertanya.

lalu deras kicau, menjadi
lirik pagi. hari bernyanyi,
berdengung panjang
sungai di pipi, kering
kali ini tak ada mata air.

berdiri tegak
antara rumput, demikianlah
aku mengenalmu, ilalang.
terbungkuk bungkuk dengan sopan
hendak ku petik, lalu
ku bawa pulang.

kecup aku sepanjang jalan.

#10 Mencari Kekasih

aku ini berlari
mencari kekasihku di awan
diantara bulir hujan
juga mendungnya bintang

hei itu dia!
persis di atas kepala
kekasihku sedang merekah
ia mengenakan gaun merah

siapakah itu di sampingnya
seorang perempuan jelita
lalu aku patah
hancur bagai remah
--- tenggelam

#09 Rindu Yang Mengetuk

perkenalkan aku rindu
dan kau pintu
sepanjang hari aku berdiri di sini, mengetuk
helai air mata di pipiku tak lagi mekar
mereka ramai digerogoti ulat.
aku rindu dan kau pintu
aku mendentumkan kepalaku ke dindingdinding,
supaya bunyinya sampai ke hatimu.
semakin hari bunyinya semakin lelah
lalu aku pun padam
padahal aku rindu pulang
pada pintumu yang terkunci.

#08 Kisah Langit Yang Kosong

tibatiba aku hendak muntah
muntahkan sajak bernanah
ke dalam langit yang kosong
biarkan ia menjadi sekalimat pecut
yang lalu dibumbui airmata.
disana akan ada pahit merajalela
dan purnama menjadi limbah.
kan kuiris bintangbintang menjadi nista
supaya kau tahu:
"jatuhcinta itu, berani luka?"

#07 Ketika Pagi

runtuh
langit
tak utuh

pecah
hujan
resah

reda
di cangkir
airmata

#06 Kenangan

pahit pecah
bagai tirai
pada jendela jendela
kota tua.
menghimpit sepi
larut bersama hujan
limbung bersama gundukan tanah
kembali kepada genangan.
“akulah kenangan”
yang basah di pipimu
bertahuntahun lalu
yang pernah kau setubuhi dengan
seribu belati.

#05 Mangkuk Hujan

seporsi hujan
untukmu kawan
yang kedinginan
di bawah awan
“bawalah pulang.”
simpanlah di lemari
‘tuk kakikaki yang menari
lelah merentang hari.

#04 Lilin Kecil

sebatang lilin kecil
menyala pada puisi
membakar tanpa api
membangunkan orang orang mati

#03 Kekasih

kekasih datang
: bagai awan, berarak pelanpelan

#02 Pagi Rindu

gelisah--
pagi tak
menghembuskan
nafasmu,
ilalang.
bisu
di antara
denting
pepohonan.
rinduku
berhamburan
di dedaunan. 
berguguran
berhelai
ingin mengecup
matamu
yang sendu

#01 KUPU

bangkai kupu
di dedaun
merah ungu
kibaskan sayap
patah, menuju
taman bunga
ilalang.
belum mati